Story of Dzulqornain Based on Holy Quran

Story of Dzulqornain Based on Holy Quran – Compared With Story of Alexander The Great (Iskandar Zulkarnain)

Is Alexander The Great truly Dzulqornain?

dr. Monte Selvanus Luigi Kusuma



Pendahuluan

Sejarah adalah hal lampau yang banyak mengandung banyak pelajaran. Seperti kisah Dzulqornain dalam Al Quran yang sarat dengan pelajaran. Kita juga mengenal Alexander the Great –yang oleh sebagian orang- sering disebut Iskandar Zulkarnain. Lantaran mereka berkeyakinan bahwa Dzulqornain adalah Iskandar. Benarkah Dzulqornain yang tersebut dalam Al Quran adalah Alexander the Great (Iskandar Zulkarnain) sebagaimana anggapan orang-orang? Mari kita simak kisah mereka baik yang termaktub dalam Al Quran dan sumber sejarah masa lalu.


Kisah Dzulqornain

Al Quran berkisah:

Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: "Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya." Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh suatu jalan. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: "Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka. Berkata Dzulkarnain: "Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami."


Kemudian dia menempuh jalan (yang lain). Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu, demikianlah. dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.


Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: "Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya'juj dan Ma'juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?" Dzulkarnain berkata: "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi." Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: "Tiuplah (api itu)." Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: "Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku ku tuangkan ke atas besi panas itu." Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya.

Dzulkarnain berkata: "Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar."

(QS Al Kahfi (18): 83-98)


Dalam Al Quran dinyatakan dengan tegas bahwa Dzulqarnain adalah umat Muslim, menyembah Allah dan beriman kepada-Nya. Tentang tahun berapa kisah kehidupannya memang belum ada kepastian sejarah yang berhasil mengungkapkannya. Dari Al Quran kita juga mendapatkan gambaran bahwa kisah kehidupan Dzulqornain yang berkelana hingga di wilayah tempat matahari terbenam (…dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam…), dan di tempat itu penduduknya belum beriman kepada Allah. Kemudian Dzulqornain melanjutkan perjalanan hingga di wilayah tempat matahari terbit (di sebelah timur), dan tidak ada pulau lain yang menghalangi (…dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu…).


Syekh Hamdi bin Hamzah Abu Zaid berijtihad : Dzulqornain berjalan menuju tempat matahari terbenam yaitu di perairan wilayah Kepulauan Maladewa, ia melihat matahari terbenam di dalam laut berlumpur hitam. Fakta yang ada adalah matahari seolah tenggelam dalam lautan yang berwarna hitam. Hal ini bisa dilihat dari geografis kepulauan Maladewa yang terbentuk dari lelehan larva gunung berapi yang membeku dan membentuk karang (atol). Atol ini berbentuk cincin dan dari bawah kadang masih keluar gas dan semburan gunung berapi di bawah laut, kejadian ini masih terjadi hingga sekarang. Mungkin inilah yang dilihat oleh Dzulqornain lautan berlumpur hitam. Dan tempat terbenamnya matahari tepat di tengah cincin atol kepulauan tersebut. Sehingga seakan-akan matahari tenggelam dalam lautan berlumpur hitam. Kemudian Dzulqornain meneruskan perjalanan dengan kapal menuju wilayah terbenam matahari yaitu di perairan kepulauan Kirbiti (sebelah timur pulau Irian Indonesia). Di daerah tersebut memang tidak ada pulau-pulau selanjutnya. Sejauh mata memandang ke arah timur hanya akan dijumpai Lautan Teduh (Samudra Pasifik). Dan kepulauan Kirbiti merupakan padang rumput yang luas hampir-hampir tidak dijumpai pegunungan atau perbukitan.


Kemudian Dzulqornain melanjutkan perjalanan hingga di negara antara 2 gunung. Penduduk wilayah tersebut berbicara dengan bahasa yang nyaris tidak dimengerti oleh Dzulqornain. Dan mereka meminta kepada Dzulqornain untuk membuatkan tembok untuk mereka dari mencegah serangan Kaum Ya’juj dan Ma’juj. Dalam Al Quran kita dapati bahwa Kaum Ya’juj dan Ma’juj adalah kaum perusak. Namun dalam Al Quran sendiri tidak merinci keberadaan kaum tersebut, arti nama suku tersebut dan lain-lain. Dari permintaan pembuatan tembok oleh para penduduk tersebut dapat kita simpulkan bahwa kaum yang ditolong oleh Dzulqornain adalah kaum yang masih ‘terbelakang’ teknologinya. Sehingga mereka belum bisa membuat tembok yang kokoh yang dapat melindungi mereka dari gempuran kaum Ya’juj dan Ma’juj. Dan Dzulqornain berhasil membangun tembok beton dengan komposisi tanah liat, besi, juga tembaga. Tembok ini tidak bisa dipanjat maupun dilubangi oleh kaum Ya’juj dan Ma’juj. (…Dzulkarnain berkata: "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi." Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: "Tiuplah (api itu)." Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: "Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku ku tuangkan ke atas besi panas itu." Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya…).


Ada hal menarik dari kata Ya’juj dan Ma’juj. Barangkali dari literatur bahasa Arab tidak akan kita jumpai arti kata Ya’juj dan Ma’juj. Namun begitu kita membuka kamus bahasa Cina Mandarin kita akan mendapati arti kata Ya’juj dan Ma’juj. Ya’juj berarti penduduk benua Asia, dan Ma’juj adalah penduduk benua berkuda. Apakah itu berarti Ya’juj dan Ma’juj merupakan salah satu suku di Asia yang pandai berkuda? Wallahua’lam.

Sekarang yang menjadi perhatian kita adalah, apakah sampai saat ini tembok itu masih nyata adanya? Sebagian ulama berpendapat bahwa tembok itu sekarang ghaib namun masih ada. Terbukti bahwa bangsa Ya’juj dan Ma’juj belum binasa dan masih ada hingga saat ini dan kelak mereka akan menjadi salah satu tanda hari kiamat. Mari kita simak hadits Nabi: “Dinding Ya’juj dan Ma’juj akan terbuka, maka mereka akan menyerang semua manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala: ‘Dan mereka akan turun dengan cepat dari seluruh tempat-tempat yang tinggi.’ (QS Al Anbiyaa (21):96). Maka mereka akan menyerang manusia, sedangkan kaum Muslimin akan berlarian dari mereka ke kota-kota dan benteng-benteng mereka, kemudian mereka mengambil binatang-binatang ternak bersama mereka. Sedangkan mereka (Ya’juj dan Ma’juj) meminum semua air di bumi, sehingga apabila sebagian mereka melewati sebuah sungai maka merekapun meminumnya sampai kering dan ketika sebagian yang lain dari mereka melewati sungai yang sudah kering tersebut maka meraka berkata: ‘Dulu di sini pernah ada air.’ Dan apabila tidak ada lagi manusia yang tersisa kecuali seorang saja di sebuah kota atau benteng, maka berkatalah salah seorang di antara mereka: ‘Mereka-mereka penduduk bumi sudah kita habisi, maka yang tertinggal adalah penduduk langit, kemudian salah seorang dari mereka melemparkan tombaknya ke langit dan tombak tersebut kembali dengan berlumuran darah yang menunjukkan suatu bala dan fitnah.Maka tatkala mereka sedang asyik berbuat demikian, Allah SWT mengutus ulat ke pundak mereka seperti ulat belalang yang keluar dari kuduknya, maka pada pagi harinya mereka pun mati dan tidak terdengar satu nafaspun. Setelah itu kaum Muslimin berkata: ‘Apakah ada seorang laki-laki yang mau menjual dirinya untuk kami (berani mati) untuk melihat apa yang sedang dikerjakan musuh kita ini?’ Maka majulah salah seorang dari mereka dengan perasaan (menganggap) bahwa ia telah mati, kemudian ia menemui bahwa mereka telah mati dalam keadaan sebagian mereka di atas sebagian yang lain (berimpitan), maka laki-laki tadi menyeru: ‘Wahai kaum Muslimin, bergembiralah karena sesungguhnya Allah SWT sendiri telah membinasakan musuhmu.’ Maka mereka pun keluar dari kota-kota dan benteng-benteng dan melepaskan ternak-ternak mereka ke padang rumput kemudian padang rumput itu di[penuhi oleh daging-daging binatang ternak, maka semua susu ternak tersebut gemuk (penuh) seperti tunas pohon yang paling bagus yang tidak pernah dipotong.


Namun saya cenderung meyakini bahwa tembok Dzulqornain masih berdiri utuh hingga sekarang dan tidak ghaib. Pertanyaan berikutnya di manakah tembok itu berdiri? Dan kaum Ya’juj Ma’juj sekarang berada di mana? Sekali lagi belum ada fakta yang berhasil mengungkap rahasia ini. Saya cenderung sepakat dengan ijtihad Syekh Hamdi bin Hamzah Abu Zaid yang menyatakan bahwa satu-satunya tembok yang kokoh dan bertahan hingga ribuan tahun ini adalah Tembok Besar Cina, dan terbukti bahwa dengan tembok tersebut bangsa Cina telah berhasil menahan serangan dari luar. Dan melihat literatur bahasa Cina yang menyatakan bahwa Ya’juj Ma’juj berarti suku Asia yang pandai berkuda, boleh jadi wilayah yang mendapat pertolongan Dzulqornain adalah Cina Tengah khususnya wilayah Zheng Zhou. Wallahu a’lam.


Kisah Iskandar Zulkarnain (Alexander The Great)

Setelah kita menyimak perjalanan Dzulqornain, marilah kita bandingkan dengan sejarah kehidupan Alexander. Mudah-mudahan dari sedikit perbandingan ini kita bisa mengambil kesimpulan: Apakah Dzulqornain yang termaktub dalam Al Quran adalah Alexander seperti yang diklaim oleh orang-orang pada umumnya.

Alexander adalah seorang pangeran dari kerajaan Macedonia. Dilahirkan di kota Pella, ibu kota Macedonia pada tahun 354 SM. Ayahnya bernama King Philip, di bawah kekuasaan ayahnya Alexander mendapat bimbingan kemiliteran secara ketat. Kemudian untuk pengajaran filsafat, kedokteran dan ilmu alam diserahkan sepenuhnya kepada Aristoteles.


Alexander memulai perangnya yang pertama dengan penyerbuan ke Thracia, pada saat itu ia berusia 16 tahun. Kemudian bersama-sama ayahnya, Alexander melebarkan kekuasaan kerajaan mereka hingga seluruh wilayah Yunani. Melalui pertempuran Cheronea mereka berhasil menaklukkan Athena dan Thebe. Rencana penyerbuan berikutnya adalah negeri Persia. Pada saat itu Persia adalah imperium terbesar dunia dengan jumlah tentara lebih dari 1 juta personil. Namun sebelum King Philip melaksanakan rencananya, ia dibunuh oleh Pausanias. Dengan demikian Alexander diangkat menjadi raja baru di Macedonia pada tahun 336 SM, usianya 18 tahun saat itu. Setahun setelah pengangkatannya menjadi raja, Alexander meluaskan kekuasaannya hingga wilayah Danube, yaitu wilayah utara negeri Macedonia.


Memasuki Persia

Persia, imperium terbesar dunia, diperintah oleh King Darius, dengan jenderal utama Bessus. Persia menguasai kota-kota pelabuhan dan perdagangan penting di wilayah Asia. Saat itu hampir mustahil untuk mengalahkan Persia walaupun seluruh kekuatan Yunani bersatu.


Alexander memasuki wilayah Persia melalui Hellespont yaitu kota Pelabuhan sebelum memasuki wilayah Troya. Alexander membawahi 30.000 prajurit dari Macedonia. Ketika Alexander memasuki wilayah Granicus, ia harus berhadapan dengan pasukan Persia di bawah pimpinan Jenderal Memnon yang membawa 40.000 prajurit. Alexander mencatat prestasi gemilang dalam pertempuran ini, tercatat tidak kurang 20.000 prajurit Persia terbunuh. Kemudian melalui peperangan demi peperangan wilayah Persia yang luas dapat dikuasai oleh Alexander. Namun Persia belum sepenuhnya ditaklukkan Alexander.

Alexander meneruskan invasinya menuju Mesir dan melewati pertempuran Issus, Tyre dan Gaza. Penyebab pertempuran Tyre tidak lain karena penduduk Tyre menolak Alexander yang hendak mengunjungi kuil Apollo. Dalam penyerbuan itu Alexander membantai lebih dari 7000 penduduk dan menjual 30.000 lainnya sebagai budak. Dalam pertempuran Gaza, Alexander berhasil menawan gubernur Gaza. Kemudian Alexander menghukum mati gubernur Gaza dengan cara menyeret gubernur Gaza dengan kuda hingga menemui ajalnyua. Setelah kejadian ini, kota-kota lainnya menyerah dengan cepat. Memphis, ibu kota Mesir menyerah tanpa syarat, dan menjadikan Alexander sebagai salah satu dewa di Mesir.


Dari Mesir, Alexander menyeberangi Efrat dan Tigris dan menuju ibukota Persia, yaitu Babilonia. Tahun 331 SM, Alexander dengan 70.000 pasukannya berhadapan dengan King Darius yang membawa pasukan 1 juta personil infantri, 200 kereta kuda, 40.000 kavaleri, dan 200 pasukan gajah. Dengan pasukannya yang terlatih Alexander berhasil memukul mundur Darius. Darius kehilangan 4000 kavaleri, 300.000 infantri, dan 115 pasukan gajah. Sedangkan Alexander harus kehilangan 20.000 pasukannya.


Tahun 330 SM Alexander secara penuh menguasai Persia. King Darius meninggal dibunuh oleh jenderal utamanya yaitu Bessus. Kemudian Alexander menikahi putri Darius yang bernama Rokkane. Tahun 327 SM, Alexander memulai invasinya menuju India. Inilah peperangan paling sulit yang pernah dihadapi pasukan Alexander. Pasukan Alexander harus berhenti di Sungai Gangga, dan kembali ke barat. Dalam sejarah tercatat Alexander harus kehilangan ¾ pasukannya. Tahun 324 SM, sahabat terbaik Alexander yaitu Hephaiston meninggal. Dan setahun sesudahnya yaitu 323 SM, Alexander menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam usia 33 tahun.


Komparasi Kisah Dzulqornain dangan Alexander The Great (Iskandar Zulkarnain)

Pembanding

Dzulqornain

Alexander

Agama

Islam

Penyembah banyak Dewa (politeisme). Memuja dewa Apollo, dan menganggap dirinya adalah titisan Dewa Zeus.

Kisah hidup

Menempuh perjalanan dari barat ke timur. Yaitu dari tempat terbenam matahari menuju tempat tenggelam matahari. Kemudian menuju daerah di antara 2 gunung.

Menempuh jalan dari Macedonia, Yunani, Persia, Mesir, dan berhenti di India lantaran pasukan India sangat sulit dikalahkan.

Akhlaq (pribadi)

Sesuai akhlak seorang Muslim, yang beriman. Sekalipun dalam Al Quran tidak dijelaskan bahwa Dzulqornain melakukan peperangan, namun dari bantuannya kepada mereka yang lemah yang tertindas menunjukkan ketinggian akhlak mulia Dzulqornain.

Hidupnya penuh ambisi untuk menguasai seluruh dunia ini dalam genggamannya. Alexander tidak mengenal ampun dalam membantai penduduk sipil, pasukan lawan, bahkan terhadap pasukannya sendiri yang berseberangan dengannya. Alexander tidak segan-segan membunuh siapa pun yang menentang keinginannya termasuk bawahannya jika menolak perintahnya. Seperti saat Alexander membunuh Parmenion dan Philotas, padahal kedua jenderal ini adalah orang kepercayaan ayahnya yaitu King Philip.

Kisah pembangunan tembok

Dzulqornain membangun tembok untuk pertahanan dari serangan Ya’juj dan Ma’juj.

Semenjak usia 16 tahun Alexander berada dalam medan perang. Hampir seumur hidupnya Alexander berperang. Dalam sejarah tercatat bahwa Alexander tidak pernah sedikit pun membangun negerinya juga negeri-negeri yang telah ia taklukkan.


Kesimpulan

Setelah kita melihat perbandingan di atas, bisa kita tarik sebuah kesimpulan. Dzulqornain yang termaktub dalam Al Quran, bukanlah Alexander the Great sebagaimana yang selama ini dikisahkan. Wallahu’alam.



Daftar Pustaka

Al Quran

Alexander The Great: Ancient Greece, National Geographic vol. 197, 2000.

Alexander, Oliver Stone, Internedia Film, Warner Bros Pictures, 2004.

Encarta Encyclopedia. 2005

Hamdi bin Hamzah Abu Zaid, Syekh. 2004. Fakk ‘Asrar Dzi Al Qornain wa Ya’juj wa Ma’juj, Almahira Press, Riyadh.

Warry, John. 1991. Alexander 334 BC-325 BC: Conquest of the Persian Empire, Osprey Publishing, Great Britain.

www. wikipedia.com (June 2005)

www.macedonia.com (June 2005)

At The First You Make Habbits, At The Last Habbits Make You

At The First You Make Habbits, At The Last Habbits Make You


Dan carilah apa-apa yang telah dianugerahkan kepadamu

kebahagiaan negeri akhirat dan janganlah engkau melupakan bagianmu

dari kenikmatan dunia dan berbuat baiklah

sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.

(Al Qoshosh 77)



Ada sebuah gudang berisi 3 ton baja. Setiap 1 ton berharga 1 juta rupiah. Satu ton dibawa ke Jerman, dan diolah menjadi mobil BMW yang berharga 1 milyar rupiah. Baja yang 1 ton lagi dibawa ke Jepang dan diolah menjadi mobil Toyota seharga 500 juta rupiah. Kemudian sisa 1 ton yang ada dibawa ke perusahaan lokal di Indonesia tempat pengolahan cangkul, linggis, pisau, wajan, sekop dan lain-lain. Setelah selesai diolah dengan keras bermandikan keringat, jadilah alat-alat tadi seharga 1,5 juta rupiah.


Setelah BMW, Toyota dan cangkul serta sejenisnya tadi kembali dilebur menjadi baja, ternyata harganya kembali sama yaitu masing-masing berharga 1 juta rupiah.


Begitulah ilustrasi manusia, berangkat dari start yang sama dan bila mati menjadi tanah yang sama. Namun dalam hidupnya dan pemanfaatannya bisa jauh berbeda nilainya antara yang satu dengan yang lain. Tidak ada yang istimewa pada Imam Syafi’i, ia manusia biasa layaknya kita. Dilahirkan menangis, membutuhkan makan, istirahat dan lain-lain. Namun ia bisa menghafal Al Quran pada usia 9 tahun. Di usianya yang ke-10, isi kitab Al Muwatho’ karya Imam Malik yang berisi 1720 hadits pilihan sudah mampu dihafal dengan sempurna. Pada usia 15 tahun telah menduduki jabatan mufti (hakim agung) kota Mekah. Subhanallah. Tidak ada yang istimewa pada Ibnu Sina (Avicenna), ia bukan manusia super. Namun beliau selain menjadi penghafal Al Quran, juga menjadi seorang dokter dengan mempelajari ilmu kedokteran hanya dalam waktu 1 tahun saja, juga mampu menghasilkan kitab Al Qonun (Canon of Medicine) yang menjadi rujukan para dokter hingga saat ini. Demikian pula dengan Buya Hamka, yang juga manusia biasa layaknya kita, dan beliau telah menghasilkan karya kitab Tafsir Al Azhar yang monumental sewaktu beliau berada dalam penjara. Dr. W. Warsito, pria berusia tigapuluh tahunan, kelahiran pelosok Karang Anyar Jawa Tengah, menemukan dan menggagas Volume Thopography CT Scan 4 Dimensi Real Time, yang kini menjadi rujukan para profesor dunia yang dulunya menjadi guru dan referensi ilmunya.


Manusia berasal dari tanah yang sama, namun berbeda-beda dalam melakukan percepatan diri. Nilai manusia itu tergantung bagaimana kita mengisi dan memperlakukan diri menjadi unggul dan berprestasi. ”Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah orang yang paling takwa di antara kamu” (QS Al Hujurat (49): 13)


Mari kita bercermin dari kisah-kisah di atas, bagaimana TOKOH mengukir sejarahnya dan melakukan percepatan sehingga hidupnya selalu terisi dengan prestasi. Belajarlah dari kebiasaan orang-orang sukses. Berpikir sukses dan bekerja sukses, ubah kebiasaan negatif menjadi positif. Kita merindukan pahlawan, minimal buat diri kita sendiri. Itulah kerinduan yang menggugah jiwa untuk selalu berkarya dan mengharap surga sebagaimana yang diucapkan oleh Umar bin Abdul Aziz, “Sungguh aku memiliki jiwa perindu, ketika jiwa ini merindukan kepemimpinan, maka aku mendapatkannya. Ketika ia merindukan Khilafah, maka aku meraihnya, dan sekarang jiwa itu merindukan surga.”

1. Demi Masa

Rasulullah saw bersabda, “Ada dua nikmat, di mana banyak orang tertipu dengan keduanya yaitu nikamt sehat dan waktu luang.” (HR Bukhori dari Ibnu Abbas)

Menurut Rasulullah, umur umatnya rata-rata sekitar 60 tahun. Waktu kita sama dalam sehari semalam yaitu 24 jam lamanya. Cara kita menggunakannyalah yang membuat kita berbeda. Imam Ghazali berkata, kalau orang umurnya 60 tahun dan menjadikan 8 jam sehari untuk tidur, maka dalam 60 tahun itu telah ia habiskan 20 tahunnya untuk tidur. Dan itulah kebanyakan manusia. Mengambil inspirasi dari hadits nabi dan hikmah Imam Al Ghazali, maka kunci dari semuanya adalah bagaimana memberdayakan waktu dan memberdayakan diri sehingga melahirkan ide-ide segar dan menghasilkan karya-karya besar.

2. Ubah Paradigma Lama

Kita orang biasa, tentu banyak kekurangan, kelemahan, kegagalan, kemalasan dan lain-lain. Ubah paradigma cara pandang kita, jangan menyalahkan keadaan, tetapi buatlah keadaan. Bila seorang pesimis berkata: “Masalah ini mungkin diselesaikan, tapi sulit,” maka optimislah dan katakan: “Masalah ini sulit, tapi mungkin.” Kuncinya adalah kreatifitas, berpikir luar ruang, mendobrak kebekuan dan melawan kebiasaan untuk mengatasi keadaan. Nabi Ya’qub telah mengajarkan kreatifitas bagi anak-anaknya, yaitu untuk memasuki Negeri Mesir tidak melalui satu pintu saja, tetapi melalui berbagai pintu.

“Dan Ya’qub berkata, “Hai anak-anakku, janganlah kalian bersama-sama masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang berlainan...” (QS. Yusuf 67)

3. Popularitas Bukanlah Jaminan

Masih ingat kisah kematian Nike Ardilla dalam kecelakaan yang disinyalir akibat over dosis narkotika? Namanya dipuja, lagunya melegenda. Tapi sayang banyak yang lupa pada ulama kharismatik Yogyakarta, KH AR Fachruddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah. Beliau wafat pada hari-hari itu juga, tetapi media tidak gempar memberitakannya. Presatasi hakiki bukanlah harta yang berlimpah, bukan kedudukan yang tinggi, jabatan mentereng, atau kekuasaan yang besar. Bisa jadi prestasi itu tidak dikenal orang, tidak ada pujian apalagi karangan bunga. Ada seorang wanita yang rajin membersihkan masjid, saat ia meninggal, berita kematiannya tidak disampaikan kepada Rasulullah. Ia tidak dianggap apa-apa, karena ia perempuan biasa tanpa prestasi yang berarti. Tetapi di mata Rasulullah, perempuan itu dihargai. Begitu Rasulullah mendapat kabar kematian perempuan ini, beliau minta ditunjukkan kuburnya lalu menyolati dan mendoakannya. Prestasinya sederhana tetapi luar biasa, rajin dan istiqomah membersihkan masjid.

4. Mereka Pun Pernah Gagal

Imam Al Ghazali adalah orang yang gemar mencatat semua ilmu yang ia dapatkan, hingga suatu saat ia dirampok dan hasil catatan ilmunya dirampas oleh perampok tersebut. Imam Ghazali bersikeras merebutnya kembali, tetapi perampok itu malah mencemoohnya. Masa mengandalkan ilmu hanya pada catatan bukan dari hafalan hati. Kegagalan inilah yang memacu dirinya untuk merubah cara belajarnya menjadi penghapal. Thomas Alfa Edison melakukan eksperimen listrik sebanyak 9999 kali dan belum berhasil, namun tetap ia lanjutkan hingga ia berhasil pada eksperimen yang ke 10.000.

Ada kalanya halangan, rintangan yang kita anggap sebagai penyebab kegagalan, penyebab kesulitan kalau dapat kita kelola dengan baik justru akan menjadi cambuk dan kita akan mendapatkan kesuksesan karenanya. Jangan pernah menyangka bahwa seorang pahlawan selalu meraih prestasi-prestasinya dengan mulus atau bahkan tidak mengenal kegagalan. Kesulitan-kesulitan adalah rintangan yang diciptakan oleh sejarah dalam menuju kepahlawanan. Membebaskan kota Konstantinopel bukanlah pekerjaan mudah bagi seorang pemuda berusia 23 tahun setangguh Muhammad al Fatih Murad. Pembebasan pusat kekuasaan Imperium Romawi itu, kata orientalis Hamilton Gibb adalah sebuah mimpi delapan abad dari kaum Muslimin. Semua serangan gagal meruntuhkan perlawanan kota itu sepanjang abad-abad itu. Dan serangan-serangan awal Muhammad al Fatih Murad juga mengalami kegagalan. Kegagalan itu sama dengan kegagalannya sebagai pemimpin negara ketika pada usia 16 tahun ayahnya menyerahkan kekuasaan padanya. Tapi kemudian ternyata Muhammad al Fatih kemudian berhasil merebut kota itu.

Dan masih banyak kisah-kisah yang lain tentang kegegalan tokoh dunia sebelum akhirnya menggapai kesuksesan. Perlu kita sadari bahwa kegagalan dan kesuksesan adalah dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Orang ingin sukses harus tahu bahwa ada saat-saat kegagalan. Yang penting bukan sekedar mencari jalan sukses, tetapi juga mengerti “apa yang menyebabkan kegagalan.” Bukan meratapi mengapa ini terjadi tetapi berpikir apa yang harus dilakukan untuk mengatasi.

Billy PS Lim, seorang motivator dunia pernah bertanya pada peserta trainingnya.”Mengapa orang akan tenggelam apabila jatuh ke dalam air?” Sebagian besar peserta menjawab, “Dia tidak berenang.” Namun Lim menyalahkan jawaban tersebut. Lalu Lim menerangkan ada juga orang yang tenggelam di air sedalam 3 inchi. Apakah tidak bisa berenang adalah penyebab tenggelamnya? Tentu saja tidak. Lim berkata, “Orang tenggelam karena ia menetap di situ dan tidak menggerakkan dirinya ke tempat lain.”

5. Jangan Menyerah –Belajar Dari Si Kecil

Barangkali kita sudah lupa, bagaimana awalnya sehingga saat ini kita bisa berjalan dengan kedua kaki kita. Mungkin kita juga lupa, bagaimana awalnya kita memasukkan pertama kali sebuah sendok berisi penuh makanan ke dalam mulut. Suapan pertama bukannya masuk ke dalam mulut, melainkan ke hidung atau mata.

Dulu kita adalah sesosok yang tidak kenal takut dan pantang menyerah, pada saat kita belajar berdiri, kita mencoba meraih apa saja yang akan membantu kita berdiri. Mencoba berdiri dan jatuh, mencoba lagi dan jatuh lagi. Tak bosan-bosannya kita mencoba berdiri dan berdiri. Kemudian kita bisa berdiri tegak, saat itu pula kita ingin lebih maju dan membuat perubahan dengan cara berpindah tempat dengan melangkahkan kaki. Ternyata berdiri dengan satu kaki sangat sulit, dan kita pun jatuh. Kita menangis tetapi herannya, setelah reda, kita kembali berdiri dan mencoba melangkah lagi. Berkali-kali kita jatuh namun kita tidak juga jera. Sampai akhirnya kita berhasil melangkah. Ternyata melangkah pun belum memuaskan kita, lalu kita mencoba berlari. Demikianlah seterusnya sehingga kita bisa berdiri, berjalan dan berlari. Bayangkan apa jadinya jika jika saat bayi dulu kita sudah kenal kata menyerah, dan berhenti berusaha pada saat kagagalan kita yang pertama. Tentunya kita tidak akan bisa berdiri apalagi berjalan pada saat ini. Kalau dulu kita sanggup menjadi sosok-sosok tangguh, ke manakah keberanian itu sekarang?


Demikian sedikit kunci untuk melecitkan diri kita supaya menjadi pribadi-pribadi berkualitas. Hidup cuma sekali, maka hiasilah dengan prestasi.

KISAH TERBELAHNYA BULAN

KISAH TERBELAHNYA BULAN


"Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus." Dan mereka mendutakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya (Al Qomar (54): 1-3)

Saudaraku, suatu ketika orang-orang Quraisy meminta bukti kenabian Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw mengarahkan jarinya ke bulan dan mengirisnya. Ajaib tiba-tiba bulan pun terbelah dengan izin Allah SWT. Namun lagi-lagi kaum Quraisy mendustakan mukjizat ini sambil mengatakan, “Sungguh ini adalah sihir.” Demikianlah keingkaran mereka tidak pernah surut walaupun Rasulullah sudah memenuhi permintaan mereka.

Saudaraku, mungkin kita yang di jaman modern ini juga kadang bertanya-tanya. Apakah terbelahnya bulan ini nyata atau hanya sekedar ilusi. Saudaraku, tahukah bahwa ada seseorang di Amerika yang masuk Islam karena ayat ini. Pada saat ia mulai mempelajari agama-agama di dunia, ia memasuki ayat-ayat Al Quran. Sampai di ayat-ayat suci ini, ia mendesah dan berkata, “Bagaimana mungkin aku bisa menerima agama yang penuh dusta ini. Bagaimana mungkin bulan bisa terbelah.” Lalu ia campakkan ayat-ayat Allah ini ke kasurnya. Selang beberapa hari ketika ia sedang menyaksikan televisi tentang perdebatan pendaratan pesawat di bulan, saat itu NASA dengan bangga mengumumkan bahwa pihaknya telah menemukan bahwa bulan pernah mengalami pembelahan satu kali ratusan tahun yang lalu dan secara tiba-tiba bulan menutup kembali. Hal itu mereka buktikan dengan kontur tanah dan geografis di bulan yang menunjukkan ke arah itu.

Orang ini tersentak dan berdiri dari duduknya mendengar ungkapan para ahli dari NASA. “Muhammad benar,” pikirnya. Buru-buru ia pulang ke rumah dan mencari kembali ayat-ayat penuh keagungan yang sempat ia campakkan. Setelah itu ia menyatakan keislamannya.

Saudaraku, mungkin kita telah berulang-ulang membaca ayat-ayat ini, namun barangkali kita satu di antara berjuta yang membaca namun tidak mengetahui maknanya. Saudaraku sudahkah kita membaca ayat-ayat Allah yang agung kemudian mengimaninya?

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”

(Al Fath (48): 5)


Ya Allah, saksikanlah bahwa ini telah hamba sampaikan.

Manasik Haji


MANASIK HAJI

dr. Monte Selvanus Luigi Kusuma



A. Pengertian Haji

Sengaja datang ke Mekah, mengunjungi Ka'bah dan tempat-tempat lainnya untuk melakukan serangkaian ibadah dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Menunaikan ibadah haji adalah sesuatu yang amat dirindukan oleh setiap umat Islam, bahkan oleh yang telah menunaikannya berkali-kali sekalipun. Karena itu, bagi yang dimudahkan Allah untuk bisa menunaikan ibadah haji tahun ini agar menggunakan kesempatan emas itu dengan sebaik-baiknya. Sebab, belum tentu kesempatan menunaikan ibadah haji itu datang kembali.

Agar bisa beribadah haji dengan sebaik-baiknya, sekhusyu' - khusyu'nya dan menjadi haji mabrur, di samping harus ikhlas kita harus memiliki ilmu yang cukup seputar bagaimana menjalankan ibadah haji sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

B. Keutamaan Haji

1. Ibadah Haji merupakan salah satu perintah Allah yang harus dikerjakan, bagi yang mampu.

2. Ibadah Haji merupakan Jihad fi Sabilillah.

3. Ibadah Haji dapat menghapuskan dosa, bagi yang menjalankannya sesuai dengan
perintah Allah SWT.

4. Haji dan Umroh merupakan kifarat/penebus dosa.Ada dosa yang yang hanya dapat ditebus dengan wukuf di Arafah saat Ibadah Haji.

5. Surga adalah balasan bagi Haji yang mabrur.

6. Biaya yang dikeluarkan untuk Ibadah Haji merupakan infaq fi sabilillah

C. Hal-hal Yang Mewajibkan Haji

1. Islam

2. Berakal

3. Baliqh

4. Merdeka

5. Mampu : meliputi kemampuan materi dan fisik. Barangsiapa tidak mampu dengan hartanya untuk memenuhi biaya perjalanan, nafkah haji dan sejenisnya maka ia tidak berkewajiban haji. Adapun orang yang mampu secara materil, tetapi tidak mampu secara fisik dan jauh harapan sembuhnya, seperti orang yang sakit menahun, orang yang cacat atau tua renta maka ia harus mewakilkan hajinya kepada orang lain. Dan disyaratkan orang yang mewakilinya sudah haji untuk dirinya sendiri.

6. Dan bagi perempuan ditambah dengan satu syarat yaitu adanya mahram yang pergi bersamanya. Sebab haram hukumnya jika ia pergi haji atau safar (bepergian) lainnya tanpa mahram, berdasarkan sabda Nabi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Tidak (dibenarkan seorang) wanita bepergian kecuali dengan mahramnya." (Muttafaq Alaih).

Jika seorang wanita pergi haji tanpa mahram maka ia berdosa tetapi hajinya tetap sah.

D. Rukun Haji.

Yang dimaksud rukun haji adalah kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji yang jika tidak dikerjakan hajinya tidak syah. Adapun rukun haji adalah sebagai berikut :

1. Ihram: Yaitu mengenakan pakaian ihram dengan niat untuk haji atau umrah di Miqat Makani.

2. Wukuf di Arafah: yaitu berdiam diri, zikir dan berdo'a di Arafah pada tanggal 9 Zulhijah.

3. Tawaf Ifadah: Yaitu mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali, dilakukan sesudah melontar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Zulhijah.

4. Sa'i: yaitu berjalan atau berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah sebanyak 7 Kali, dilakukan sesudah Tawaf Ifadah.

5. Tahallul: yaitu bercukur atau menggunting rambut sesudah selesai melaksanakan Sa'i.

6. Tertib: yaitu mengerjakannya sesuai dengan urutannya serta tidak ada yang tertinggal.

E. Wajib Haji.

Adalah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji sebagai pelengkap Rukun Haji, yang jika tidak dikerjakan harus membayar dam (denda). Yang termasuk wajib haji adalah ;

1. Niat Ihram, untuk haji atau umrah dari Miqat Makani, dilakukan setelah berpakaian ihram

2. Mabit (bermalam) di Muzdalifah pada tanggal 9 Zulhijah (dalam perjalanan dari Arafah ke Mina)

3. Melontar Jumrah Aqabah tanggal 10 Zulhijah

4. Mabit di Mina pada hari Tasyrik (tanggal11, 12 dan 13 Zulhijah).

5. Melontar Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah pada hari Tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah).

6. Tawaf Wada', Yaitu melakukan tawaf perpisahan sebelum meninggalkan kota Mekah.

7. Meninggalkan perbuatan yang dilarang waktu ihram

F. Jenis Haji Pelaksanaan

1. Haji tamattu

Ibadah Haji dengan cara melaksanakan Ibadah Umroh dahulu kemudian Ibadah Haji, dan diselingi Tahallul.

a. Ihram dari miqat untuk Umroh
b. Ihram lagi dari miqat untuk Haji
c. Membayar Dam
d. Disunatkan Tawaf Qudum

Ihram untuk Umroh

|

Tawaf (dalam rangka Umroh)

|

Sai (dalam rangka Umroh)

|

Tahallul

|

Ihram untuk Haji

|

Bermalam di Mina

|

Wukuf di Arafah

|

Bermalam di Muzdalifah

|

Melontar Jumroh Aqabah

|

Menyembelih binatang Hadyu

|

Bercukur bersih atau Memendekkan rambut

|

Tawaf Ifadah

|

Sai

|

Bermalam di Mina

|

Melontar Jumroh

|

Tawaf Wada

2. Haji Ifrad

Ibadah Haji dengan cara melaksanakan Ibadah Haji dahulu kemudian Ibadah Umroh, dan diselingi Tahallul.

a. Ihram dari miqat untuk Haji
b. Ihram lagi dari miqat untuk Umroh

c. Tidak membayar Dam

Ihram (untuk Haji)

|

Tawaf Qudum

|

Sai

|

Bermalam di Mina

|

Wukuf di Arafah

|

Bermalam di Muzdalifah

|

Melontar Jumroh Aqabah

|

Bercukur bersih atau Memendekkan rambut

|

Tawaf Ifadah

|

Bermalam di Mina

|

Melontar Jumroh

|

Tawaf Wada

3. Haji Qiran

Ibadah Haji dengan cara melaksanakan Ibadah Haji dan Ibadah Umroh pada waktu bersamaan, tanpa diselingi Tahallul.

a. Ihram dari miqat untuk Haji dan Umroh
b. Melakukan semua pekerjaan haji
c. Membayar Dam

Ihram (untuk Haji dan Umroh)

|

Tawaf Qudum

|

Sai

|

Bermalam di Mina

|

Wukuf di Arafah

|

Bermalam di Muzdalifah

|

Melontar Jumroh Aqabah

|

Menyembelih binatang Hadyu

|

Bercukur bersih atau Memendekkan rambut

|

Tawaf Ifadah

|

Bermalam di Mina

|

Melontar Jumroh

|

Tawaf Wada

Bagi penduduk Indonesia, haji yang afdhal adalah haji Tamattu’. Hal itu dikarenakan mayoritas mereka tidak ada yang berangkat haji dengan membawa hewan kurban. Walhamdulillah, selama ini mayoritas jamaah haji Indonesia berhaji dengan jenis haji tersebut. Maka dari itu akan sangat tepat bila kajian kali ini lebih difokuskan pada tatacara menunaikan haji Tamattu’. Jamaah haji Indonesia –menurut kebiasaan– terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama akan berangkat ke kota Madinah terlebih dahulu, dan setelah tinggal beberapa hari di sana, barulah berangkat ke kota suci Makkah. Sehingga untuk jamaah haji kelompok pertama ini, start ibadah hajinya dari kota Madinah dan miqatnya adalah Dzul Hulaifah. Adapun kelompok kedua, mereka akan langsung menuju kota Makkah, dan miqatnya adalah Yalamlam yang jarak tempuhnya sekitar 10 menit sebelum mendarat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Sehingga start ibadah hajinya (niat ihramnya) sejak berada di atas pesawat terbang.

G. Manasik Haji Tamattu’

Adapun manasik haji Tamattu’ yang dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:

1. Bila anda telah berada di miqat, maka mandilah sebagaimana mandi janabat, dan pakailah wewangian pada tubuh anda bila memungkinkan. Mandi tersebut juga berlaku bagi wanita yang haidh dan nifas. Untuk kelompok kedua yang niat ihramnya dimulai ketika di atas pesawat terbang, maka mandinya bisa dilakukan di tempat tinggal terakhirnya menjelang penerbangannya.

2. Kemudian pakailah kain ihram yang terdiri dari dua helai (yang afdhal berwarna putih); sehelai disarungkan pada tubuh bagian bawah dan yang sehelai lagi diselempangkan pada tubuh bagian atas. Untuk kelompok kedua yang niat ihramnya dimulai ketika di atas pesawat terbang, maka pakaian ihramnya bisa dikenakan menjelang naik pesawat terbang atau setelah berada di atas pesawat terbang, dengan jeda waktu yang agak lama dengan miqatnya agar ketika melewati miqat dalam kondisi telah mengenakan pakaian ihramnya. Adapun wanita, tidaklah mengenakan pakaian ihram tersebut di atas, akan tetapi mengenakan pakaian yang biasa dikenakannya dengan kriteria menutup aurat dan sesuai dengan batasan-batasan syar’i.

3. Kemudian (ketika berada di miqat) berniatlah ihram untuk melakukan umrah dengan mengatakan:

(La baika umrota)

“Kusambut panggilan-Mu untuk melakukan umrah.”

Kemudian dilanjutkan dengan ucapan talbiyah:



(Laa baikallohumma labaik, laa baika laa syariikalaka labaik, innal hamda wa nikmata laka wal mulk laa syarikalaka)

“Kusambut panggilan-Mu Ya Allah, kusambut panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, kusambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan kerajaan hanyalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu.”


Perbanyaklah bacaan talbiyah (umrah) ini dengan suara yang lantang sepanjang perjalanan ke Makkah, dan berhentilah dari talbiyah ketika menjelang thawaf. Hindarilah talbiyah secara bersama-sama (berjamaah), karena yang demikian itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum.

Di antara hal-hal yang harus diperhatikan ketika berihram adalah sebagai berikut:

a. Menjalankan segala apa yang telah diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti shalat lima waktu dan kewajiban-kewajiban yang lainnya.

b. Meninggalkan segala apa yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di antaranya; kesyirikan, perkataan kotor, kefasikan, berdebat dengan kebatilan, dan kemaksiatan lainnya.

c. Tidak boleh mencabut rambut atau pun kuku, namun tidak mengapa bila rontok atau terkelupas tanpa sengaja.

d. Tidak boleh mengenakan wewangian baik pada tubuh ataupun kain ihram.

e. Dan tidak mengapa adanya bekas wewangian yang dikenakan sebelum melafazhkan niat ihram.

f. Tidak boleh berburu atau pun membantu orang yang berburu.

g. Tidak boleh mencabut tanaman yang ada di tanah suci, tidak boleh meminang wanita, menikah, atau pun menikahkan.

h. Tidak boleh menutup kepala dengan sesuatu yang menyentuh (kepala tersebut) dan tidak mengapa untuk memakai payung, berada di bawah pohon, ataupun atap kendaraan.

i. Tidak boleh memakai pakaian yang sisi-sisinya melingkupi tubuh (baju, kaos), imamah (sorban), celana, dan lain sebagainya.

j. Diperbolehkan untuk memakai sandal, cincin, kacamata, walkman, jam tangan, sabuk, dan tas yang digunakan untuk menyimpan uang, data penting dan yang lainnya.

k. Diperbolehkan juga untuk mengganti kain yang dipakai atau mencucinya, sebagaimana pula diperbolehkan membasuh kepala dan anggota tubuh lainnya.

l. Tidak boleh (bagi yang sudah berniat haji) melewati miqatnya dalam keadaan tidak mengenakan pakaian ihram.

Apabila larangan-larangan ihram tersebut dilanggar, maka dikenakan dam (denda) dengan menyembelih hewan kurban (seekor kambing/sepertujuh unta/sepertujuh sapi).

4. Bila telah tiba di Makkah (di Masjidil Haram) maka pastikan telah bersuci dari hadats.

5. Lalu selempangkanlah pakaian atas ke bawah ketiak kanan, dengan menjadikan pundak kanan terbuka dan pundak kiri tetap tertutup.

6. Kemudian lakukanlah thawaf sebanyak 7 putaran. Dimulai dari Hajar Aswad dengan memosisikan Ka’bah di sebelah kiri anda, sambil mengucapkan “Bismillahi Allahu Akbar.” Dari Hajar Aswad sampai ke Hajar Aswad lagi, terhitung 1 putaran.

a. Disunnahkan berlari-lari kecil (raml) pada putaran ke-1 hingga ke-3 pada thawaf qudum.

b. Disunnahkan pula setiap kali mengakhiri putaran (ketika berada di antara 2 rukun: Yamani dan Hajar Aswad) untuk membaca:



(Robbana aatinaa fiiddunyaa hasanah wa fiil aakhiroti hasanah wa qinaa ‘adzabannaar)

“Ya Allah, limpahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan juga kebaikan di akhirat, serta jagalah kami dari adzab api neraka.”

c. Disunnahkan pula setiap kali tiba di Hajar Aswad untuk mencium atau memegangnya lalu mencium tangan yang digunakan untuk memegang tersebut, atau pun berisyarat saja dengan tangan (tanpa dicium), sambil mengucapkan: “Allahu Akbar” atau “Bismillahi Allahu Akbar”.

d. Disunnahkan pula setiap kali tiba di Rukun Yamani untuk menyentuh/mengusapnya tanpa dicium dan tanpa bertakbir. Dan bila tidak dapat mengusapnya maka tidak disyariatkan mengusapnya.

e. Bila terjadi keraguan tentang jumlah putaran Thawaf, maka ambillah hitungan yang paling sedikit.

7. Seusai Thawaf, tutuplah kembali pundak kanan dengan pakaian atas anda, kemudian lakukanlah shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim (tempat berdirinya Nabi Ibrahim ketika membangun Ka’bah) walaupun agak jauh darinya. Dan bila kesulitan (tidak memungkinkan) mendapatkan tempat di belakang Maqam Ibrahim maka tidak mengapa shalat di bagian mana saja dari Masjidil Haram. Disunnahkan pada rakaat pertama membaca surat Al-Fatihah dan Al-Kafirun, sedangkan pada rakaat kedua membaca surat Al-Fatihah dan Al-Ikhlash.

8. Kemudian minumlah air zam-zam dan siramkan sebagiannya pada kepala.

9. Lalu ciumlah/peganglah Hajar Aswad bila memungkinkan, dan tidak dituntunkan untuk berisyarat kepadanya.

10. Setelah itu pergilah ke bukit Shafa untuk bersa’i. Setiba di Shafa bacalah:



(Inna shoffa wal marwa min sya’airillah)

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah itu termasuk dari syi’ar-syi’ar Allah.” (Al-Baqarah: 158)


“Aku memulai (Sa’i) dengan apa yang dimulai oleh Allah (yakni Shafa dahulu kemudian Marwah).”

11. Kemudian menghadaplah ke arah Ka’bah (dalam keadaan posisi masih di Shafa), lalu ucapkanlah:


(Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

Laa ilaha illallahu wahdahu laa syarikalahu, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wa yumitu wa huwa ‘ala kulli syain qodir, laa ilaha illallahu wahdahu anjaza wa’dahu wa nashoro ‘abdah wa hazamal ahzaba wahdah)


“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah tiada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya segala kerajaan dan pujian, Dzat yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan serta Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah semata, yang telah menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya dan menghancurkan orang-orang bala tentara kafir tanpa bantuan siapa pun.”


Ini dibaca sebanyak 3 kali. Setiap kali selesai dari salah satunya, disunnahkan untuk berdoa memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala segala apa yang kita inginkan.

12. Setelah itu berangkatlah menuju Marwah, dan ketika lewat di antara dua tanda hijau percepatlah jalan anda lebih dari biasanya. Setiba di Marwah lakukanlah seperti apa yang dilakukan di Shafa (sebagaimana yang terdapat pada point ke-11 di atas). Dengan demikian telah terhitung satu putaran. Lakukanlah yang seperti ini sebanyak 7 kali (dimulai dari Shafa dan diakhiri di Marwah).

13. Seusai Sa’i, lakukanlah tahallul dengan mencukur rambut kepala secara merata (bagi pria) dan bagi wanita dengan memotong sepanjang ruas jari dari rambut yang telah disatukan. Dengan bertahallul semacam ini, maka anda telah menunaikan ibadah umrah dan diperbolehkan bagi anda segala sesuatu dari mahzhuratil Ihram (hal-hal yang dilarang ketika berihram).

14. Tanggal 8 Dzul Hijjah (hari Tarwiyah), merupakan babak kedua untuk melanjutkan rangkaian ibadah haji. Maka mandilah dan pakailah wewangian pada tubuh serta kenakan pakaian ihram.

15. Setelah itu berniatlah ihram untuk haji dari tempat tinggal anda di Makkah, seraya mengucapkan:

(Labaika hajji)


“Kusambut panggilan-Mu untuk melakukan ibadah haji.”

Kemudian lantunkanlah ucapan talbiyah:


(Laa baikallohumma labaik, laa baika laa syariikalaka labaik, innal hamda wa nikmata laka wal mulk laa syarikalaka)


“Kusambut panggilan-Mu Ya Allah, kusambut panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, kusambut panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan kerajaan hanyalah milik-Mu tiada sekutu bagi-Mu.”


Dengan masuknya ke dalam niat ihram haji ini, berarti anda harus menjaga diri dari segala mahzhuratil ihram sebagaimana yang terdapat pada point ke-3.

16. Kemudian berangkatlah menuju Mina untuk mabit (menginap) di sana. Setiba di Mina kerjakanlah shalat-shalat yang 4 rakaat (Dzuhur, Ashar, dan ‘Isya) menjadi 2 rakaat (qashar) dan dikerjakan pada waktunya masing-masing (tanpa dijama’).

17. Ketika matahari telah terbit di hari 9 Dzul Hijjah, berangkatlah menuju Arafah (untuk wukuf). Perbanyaklah talbiyah, dzikir dan istighfar selama perjalanan anda menuju Arafah.

18. Setiba di Arafah (pastikan bahwa anda benar-benar berada di dalam areal Arafah), manfaatkanlah waktu anda dengan memperbanyak doa sambil menghadap kiblat dan mengangkat tangan, serta dzikrullah. Karena saat itu anda sedang berada di tempat yang mulia dan di waktu yang mulia (mustajab) pula. Sebaik-baik bacaan yang dibaca pada hari itu adalah:



(Laa ilaha illallahu wahdahu laa syarikalahu, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syain qodir)

“Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah tiada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya segala kerajaan dan pujian, dan Dia adalah Dzat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR. At-Tirmidzi no. 3585, dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma. Dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no.1503)


Untuk selebihnya anda bisa membaca tuntunan doa-doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang anda kehendaki. Lakukanlah amalan-amalan mulia di atas hingga matahari terbenam. Adapun shalat Dzuhur dan Ashar di Arafah, maka keduanya dikerjakan di waktu Dzuhur (jama’ taqdim) 2 rakaat - 2 rakaat (qashar), dengan satu adzan dan dua iqamat.

19. Ketika matahari terbenam, berangkatlah menuju Muzdalifah dengan tenang sambil selalu melantunkan talbiyah. Setiba di Muzdalifah, kerjakanlah shalat Maghrib dan ‘Isya di waktu ‘Isya (jama’ ta`khir) dan diqashar (Maghrib 3 rakaat, ‘Isya 2 rakaat), dengan satu adzan dan dua iqamat. Kemudian bermalamlah di sana hingga datang waktu shubuh. Seusai mengerjakan shalat shubuh, perbanyaklah doa dan dzikir sambil menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan, hingga hari nampak mulai terang (sebelum matahari terbit).

20. Kemudian (sebelum matahari terbit), berangkatlah menuju Mina sambil terus bertalbiyah. Bila ada para wanita atau pun orang-orang lemah yang bersama anda, maka diperbolehkan bagi anda untuk mengiringi mereka menuju Mina di pertengahan malam. Namun melempar jumrah tetap dilakukan setelah matahari terbit.

21. Ketika tiba di Mina (tanggal 10 Dzul Hijjah) kerjakanlah hal-hal berikut ini:

a. Lemparlah jumrah Aqabah dengan 7 batu kerikil (sebesar kotoran kambing) dengan bertakbir pada tiap kali lemparan. Pastikan setiap lemparan yang anda lakukan mengenai sasarannya.

b. Sembelihlah Hadyu (hewan kurban), makanlah sebagian dagingnya serta shadaqahkanlah kepada orang-orang fakir yang ada di sana. Boleh juga penyembelihan ini diwakilkan kepada petugas resmi dari pemerintah Saudi Arabia yang ada di Makkah dan sekitarnya. Bila tidak mampu membeli atau menyembelih hewan kurban, maka wajib puasa tiga hari di hari-hari haji (boleh dilakukan di hari-hari Tasyriq, namun yang lebih utama dilakukan sebelum tanggal 9 Dzul Hijjah/hari Arafah) dan tujuh hari setelah pulang ke kampung halaman.

c. Potong atau cukurlah seluruh rambut kepala anda secara merata, dan mencukur habis lebih utama. Adapun wanita cukup memotong sepanjang ruas jari dari rambut kepalanya yang telah disatukan.

Demikianlah urutan paling utama dari sekian amalan yang dilakukan di Mina pada tanggal 10 Dzul Hijjah tersebut, namun tidak mengapa bila didahulukan yang satu atas yang lainnya.

22. Bila anda telah melempar jumrah Aqabah dan menggundul (atau mencukur rambut), maka berarti anda telah bertahallul awal. Sehingga diperbolehkan bagi anda untuk melakukan hal-hal yang sebelumnya dilarang ketika berihram, kecuali satu perkara yaitu menggauli isteri.

23. Pakailah wewangian, kemudian pergilah ke Makkah untuk melakukan thawaf ifadhah/thawaf haji (tanpa lari-lari kecil pada putaran ke-1 hingga ke-3), berikut Sa’i-nya. Dengan selesainya amalan ini, berarti anda telah bertahallul tsani dan diperbolehkan kembali bagi anda seluruh mahzhuratil ihram.
Catatan Penting: Thawaf ifadhah boleh diakhirkan, dan sekaligus dijadikan sebagai thawaf wada’ (thawaf perpisahan) yang dilakukan ketika hendak meninggalkan kota suci Makkah.

24. Setelah melakukan thawaf ifadhah pada tanggal 10 Dzul Hijjah tersebut, kembalilah ke Mina untuk mabit (bermalam) di sana selama tanggal 11, 12, dan 13 Dzul Hijjah (hari-hari tasyriq). Tidak mengapa bagi anda untuk bermalam 2 malam saja (tanggal 11 dan 12-nya/nafar awal).

25. Selama 2 atau 3 hari dari keberadaan anda di Mina tersebut, lakukanlah pelemparan pada 3 jumrah yang ada; Sughra, Wustha, dan Aqabah (Kubra). Pelemparan jumrah pada hari-hari itu dimulai setelah tergelincirnya matahari (setelah masuk waktu Dzuhur), hingga waktu malam.

Caranya: Sediakan 21 butir batu kerikil (sebesar kotoran kambing). Kemudian pergilah ke jumrah Sughra dan lemparkanlah ke arahnya 7 butir batu kerikil (satu demi satu) dengan bertakbir pada setiap kali pelemparan. Pastikan lemparan tersebut masuk ke dalam sasaran. Bila ternyata tidak masuk, maka ulangilah lemparan tersebut walaupun dengan batu yang didapati di sekitar anda. Setelah selesai, majulah sedikit ke arah kanan, lalu berdirilah menghadap kiblat dan angkatlah kedua tangan anda untuk memohon (berdoa) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala segala apa yang diinginkan. Lalu pergilah menuju jumrah Wustha. Setiba di jumrah Wustha, lakukanlah seperti apa yang anda lakukan di jumrah Sughra. Setelah selesai, majulah sedikit ke arah kiri, berdirilah menghadap kiblat, dan angkatlah kedua tangan anda untuk memohon (berdoa) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala segala apa yang diinginkan. Lalu pergilah menuju jumrah Aqabah. Setiba di jumrah Aqabah, lakukanlah seperti apa yang anda lakukan di jumrah Sughra dan Wustha. Setelah itu, tinggalkanlah jumrah Aqabah tanpa melakukan doa padanya.

26. Bila ingin mabit 2 malam saja di Mina (tanggal 11 dan 12 Dzul Hijjah), maka keluarlah dari Mina sebelum terbenamnya matahari tanggal 12 Dzul Hijjah, tentunya setelah melempar 3 jumrah yang ada. Namun jika matahari telah terbenam dan anda masih berada di Mina, maka wajib untuk bermalam lagi dan melempar 3 jumrah di hari ke-13-nya (yang afdhal adalah mabit 3 malam di Mina/nafar tsani). Diperbolehkan bagi orang yang sakit atau pun lemah yang benar-benar tidak mampu melakukan pelemparan untuk mewakilkan pelemparannya kepada yang dapat mewakilinya. Sebagaimana diperbolehkan pula bagi orang yang mewakili, melakukan pelemparan untuk dirinya kemudian untuk orang yang diwakilinya diwaktu dan tempat yang sama (dengan batu yang berbeda).

27. Dengan selesainya anda dari kegiatan melempar 3 jumrah pada hari-hari tersebut (baik mengambil nafar awwal atau pun nafar tsani), berarti telah selesai pula dari kewajiban mabit di Mina. Sehingga diperbolehkan bagi anda untuk meninggalkan kota Mina dan kembali ke hotel atau maktab masing-masing yang ada di kota Makkah.

28. Bila anda hendak meninggalkan kota Makkah (baik yang akan melanjutkan perjalanan ke kota Madinah atau pun yang akan melanjutkan perjalanan ke tanah air), maka lakukanlah thawaf wada’ dengan pakaian biasa saja/bukan pakaian ihram dan tanpa Sa’i, kecuali bagi anda yang menjadikan thawaf ifadhah sebagai thawaf wada’nya maka harus bersa’i.


Demikianlah bimbingan manasik haji Tamattu’ yang kami ketahui berdasarkan dalil-dalilnya yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keterangan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Semoga taufiq dan hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu mengiringi kita semua, sehingga diberi kemudahan untuk meraih predikat haji mabrur, yang tiada balasan baginya kecuali Al-Jannah.
Amin Ya Mujibas Sa`ilin.

HAJI TAMATTU - PENJELASAN DETAIL

Lokasi

Tanggal

Kegiatan

Mekah

8 Zulhijah
(pagi)

· Setelah berpakaian dan berniat Ihram, berangkat dari Mekah ke Mina atau langsung ke Arafah

Mina

8 Zulhijah
(siang-malam)

· Bermalam (mabit) di Mina sebelum berangkat ke Arafah

Mina - Arafah

9 Zulhijah
(pagi-siang)

· Berangkat ke Arafah setelah matahari terbit atau setelah sholat subuh

Arafah

9 Zulhijah
(siang-sore)

· Berdoa, dzikir, tasbih sambil menunggu waktu Wukuf
(pada siang hari)

· Shalat Dzuhur dan Ashar dijama' qasar (Dzuhur 2 rakaat, Ashar 2 rakaat), dilaksanakan pada waktu Dzuhur.

· Tepat ketika matahari tengah hari bergeser (melewati jam 12 siang) ke ufuk terbenam,& nbsp tibalah waktu Wukuf.

· Laksanakan Wukuf dengan berdoa, dzikir, talbiyah, istighfar terus menerus dan berhenti saat Maghrib.

Rafah-Muzdalifah

9 Zulhijah
(sore)

· Setelah matahari terbenam, berangkat ke Muzdalifah. Sholat Maghrib nanti dilakukan di Muzdalifah (dijamak dengan sholat Isya)

Muzdalifah

9 Zulhijah
(malam)

· Sholat Maghrib dan Isya dijamak ta'khir

· Mabit di Muzdalifah, paling tidak berhenti sebentar sampai lewat tengah & nbsp malam.

· Mengumpulkan 7 batu kecil utk melontar Jumrah Aqabah besok pagi (setelah sholat Subuh pd tgl 10 Zulhijah)

· Setelah sholat Subuh pd tgl 10 Zulhijah, berangkat ke Mina

Mina

10 Zulhijah
(subuh)

· Melontar Jumrah Aqabah 7 kali

· Tahallul awal

· Ke Mekah untuk melakukan Tawaf Ifadah, Sai dan Tahallul Qubra, bagi yang menginginkan

· Harus berada kembali di Mina sebelum Maghrib

· Mabit di Mina sampai lewat tengah malam.

Mina

11 Zulhijah
(subuh-malam)

· Melontar Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah masing-masing 7 kali

· Mabit di Mina, paling tidak sejak sebelum maghrib sampai lewat tengah malam

Mina

12 Zulhijah
(pagi)

· Melontar Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah masing-masing 7 kali

· Bagi yang Nafar Awal, kembali ke Mekah sebelum Maghrib dilanjutkan dengan Tawaf Ifadah, Sa'i serta Tahallul Qubra bagi yang belum

· Bagi yang Nafar Tsani, mabit di Mina

Mina

13 Zulhijah
(pagi)

Bagi yang Nafar Tsani

· Melontar Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah masing-masing 7 kali

· Kembali ke Mekah

Mekah

13 Zulhijah
(siang-malam)

· Tawaf Ifadah, Sa'i dan Tahallul Qubra bagi yang belum. Bagi yang sudah melakukan Sa'i sesudah Tawaf Qudum (ketika baru tiba di Mekah) tidak perlu lagi melakukan Sa'i. Tinggal melakukan Tahallul saja. Tawaf dan Sa'i yang dilakukan juga berfungsi sebagai Tawaf dan
Sa'i Umroh

· Ibadah Umroh dan Haji Selesai.


Sumber Bacaan:

1. At-Tahqiq wal-Idhah Lilkatsir Min Masa`ilil Hajji wal Umrah waz Ziyarah, Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz

2. Hajjatun Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam Kama Rawaha ‘Anhu Jabir radhiyallahu ‘anhu, karya Asy-Syaikh Muhammad Nashirudin Al-Albani.

3. Manasikul Hajji Wal ‘Umrah, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.

4. Al-Manhaj limuridil ‘Umrah wal Hajj, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.

5. Shifat Hajjatin Nabi, karya Asy-Syaikh Muhammad Jamil Zainu.

6. Dalilul Haajji wal Mu’tamir wa Zaa‘iri Masjidir Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Majmu’ah minal ‘Ulama, terbitan Departemen Agama Saudi Arabia.

7. Haji dan Umroh karya H.M. Iwan Gayo